Band ini terbentuk tahun 2002.
Masing-masing personel sudah berteman baik sejak semasa SMP. Tapi
kemudian satu per satu mereka mendirikan grup band masing-masing. Hingga
pada akhirnya mereka bertemu lagi saat kuliah, dan sepakat membentuk
grup band baru yang dinamakan The S.I.G.I.T. Grup yang diawaki empat orang personel Rektivianto Yoewono (vokalis dan gitar), Farri Icksan Wibisana (gitaris), Aditya Bagja Mulyana (bass), dan Donar Armando Ekana (vokalis dan drummer).
Mereka berasal dari perguruan tinggi di Bandung. Rekti saat ini sedang menyelesaikan S2 di Teknik Lingkungan ITB, Adiet sarjana IT dari Universitas Maranatha Bandung. Kalau Achiel Sarjana S1 Arsitektur Universitas Parahyangan sementara Farri sedang studi S2 di jurusan Arsitek ITB. Wah pintar-pintar yah, calon master yang jago di bidang musik.
Saat jumpa pers sebelum manggung Jumat siang (9/5) The S.I.G.I.T hanya bersama tiga orang personelnya, kebetulan Rekti
sang vokalis masih menyelesaikan laporan tesisnya, sehingga datang
malam saat akan pentas. Mereka menjelaskan kenapa band mereka lebih
banyak menggunakan lirik bahasa Inggris, apa karena memang mereka
fanatik bahasa Inggris? Achiel menjelaskan kenapa
bahasa Inggris yang mereka pakai dalam kata-kata di liriknya karena
mereka ingin beda, dan sederhananya mereka lebih senang main dengan
kata-kata bahasa Inggris. “Kalau dengan bahasa Inggris lebih mudah
mendapat gabungan kata, dan maknanya lebih dalam,” ujarnya.
Hampir semua lagu mereka kemas dalam
bahasa Inggris, tapi bukan berarti tidak ada bahasa Indonesianya. Di
album pertama yang juga berjudul The S.I.G.I.T dirilis tahun 2004 banyak juga yang memakai bahasa Indonesia. Di album keduanya yang berjudul VISIBLE IDEA OF PERFICTION yang dirilis tahun 2006 judul lagu-lagu andalannya seperti Soul Sister juga dikemas dalam bahasa Inggris. Nowhere End dan All the Time yang bercerita tentang cinta, walau dengan sudut pandang yang tak biasa. Yah, begitulah The S.I.G.I.T
memang senang mengekspresikan kata-kata lewat bahasa Inggris, itu juga
karena mereka memang lebih sering manggung di luar negeri. Seperti di
Australia dan Singapura.
Bukan berarti kalau udah main di dua
negara itu terus puas. Mereka masih memendam keinginan tampil di Texas,
Amerika Serikat, dalam ajang South by South West. “Maret kemarin,
mestinya kami main di sana, tapi terlambat mengurus visa,” ujar Farri, sang gitaris.
South by South West merupakan ajang
bergengsi tahunan, grup bandnya dari seluruh dunia, ajang tahunan bagi
grup musik, dari lokal hingga progresif. Untuk bisa tampil di ajang itu
mereka tentu saja harus mendaftar jika nama band mereka keluar, maka
akan dipanggil dan mengisi di sesi line up. “Di ajang itu
banyak produser-produser luar yang bakal ngelirik, jika musik yang
dimainkan memang bagus, kita bisa ditawari manggung,” kata Farri.
